Rekonstruksi Makna Jahiliyah: Dinamika Kepercayaan dan Tradisi Sastra Lisan pada Masyarakat Arab Pra-Islam
Isi Artikel Utama
Abstrak
Penulisan sejarah konvensional kerap mereduksi peradaban Arab pra-Islam ke dalam narasi era kegelapan dan kebodohan total (Jahiliyah), sehingga mengabaikan kompleksitas tatanan sosial, ekonomi, dan budaya pada masa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemaknaan terminologi jahiliyah dengan membedah fungsi pragmatis dari sistem kepercayaan politeisme dan tradisi sastra lisan masyarakat Arab kuno. Menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka (library research), kajian ini menganalisis berbagai literatur kesejarahan melalui pendekatan sosio-historis. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, sistem politeisme (paganisme) yang berpusat di Mekkah bukan sekadar kesesatan teologis, melainkan sebuah infrastruktur politik yang direkayasa oleh elite Quraisy untuk mengikat konsensus antarsuku demi menjamin stabilitas rute kapitalisme niaga internasional. Kedua, sastra lisan, khususnya puisi (syi'ir), difungsikan secara strategis sebagai aparatus media massa dan senjata politik di ruang publik untuk memproduksi opini, menjaga supremasi kabilah, serta melanggengkan fanatisme kesukuan ('asabiyyah). Dengan demikian, kejahiliyahan masyarakat Arab pra-Islam sesungguhnya merujuk pada arogansi struktural dan ketertutupan kesadaran moral yang mengeksploitasi tatanan demi kepentingan elite, bukan pada defisit intelektual.
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Author Harus Menuliskan Bukti Tulisan Asli Buatan Sendiri Dengan Melampirkan Hasil Turnitin (Jika Ada) jika tidak bisa hubungi pihak jurnal MIJI untuk Cek Turnitin .